Tepat 13 September lalu, sembilan tahun sudah penulis menapakkan kaki di bumi Kinanah ini.
Di masa yang terbilang panjang itu, bagi penulis, istilah tarhil bukan lagi satu kisah dongeng semata yang biasa dielu-elukan oleh para teman yang kebetulan lebih dahulu datang menuai ilmu, merambah cakrawala, sekaligus mengais rezeki di bumi para Nabi ini.
Yah, tarhil, bukan lagi istilah yang hanya dijadikan momok untuk menakut-nakuti warga asing yang notabene melanggar undang-undang Negara yang berlambangkan Rajawali ini. Tapi iya betul-betul ada. Dan betul-betul terjadi.
Banyak modus yang mengundang kata-kata sangar itu untuk menunjukkan taringnya. Namun dari sederet modus yang ada, terduga terjaring atau ikut serta dalam aliran keras, atau paling tidak dengan partai-partai dan golongan-golongan anti rezim penguasa, adalah yang mendapatkan tanggapan serius oleh pihak state security Mesir.
Teringat kembali dengan kisah pilu, tahun 2004, di saat seorang teman berinisial AN. Ia seorang mahasiswa brilliant. Ia terkenal supel. Mudah bergaul, dan punya niat meminang seorang gadis Mesir. Namun, apa boleh buat, segala keunggulan itu lalu luluh lantak, tak ada arti sama sekali. Niat suci itupun sirna seiring peristiwa pencidukan itu. Baca entri selengkapnya »
Mendapatkan predikat Jayyid Jiddan atau Mumtaz di kalangan Brucai (Komunitas pelajar Brunei di Kairo), bukanlah sesuatu yang luar biasa. Berbeda dengan komunitas-komunitas pelajar dari negeri-negeri lainnya termasuk Masisir.
Tidak heran jika rasib atau maqbul bagi Brucai adalah sesuatu yang aneh alias beda sendiri.
Terbukti dari prosentase rata-rata beberapa tahun belakangan ini, angka kelulusan Brucai berkisar dari 90% hingga 98% pertahun. Dan yang mencapai predikat Jayyid Jiddan dan mumtaz rata-rata 80 % pertahunnya.
Prestasi gemilang yang dicapai oleh para pelajar dari Negeri jiran ini paling tidak lahir dari dua motivasi. Pertama, kesadaran pribadi para Brucai. Dan kedua, dukungan penuh kerajaan terhadap prestasi pendidikan anak-anak negerinya. Baca entri selengkapnya »
“Kepulangan Badri ke tanah air bisa jadi bukanlah akhir. tapi ia bisa jadi awal sejarah kelam postingan dan komentar-komentar liar di jejaring sosial berlabelkan Facebook itu”.
Dalam dunia tulis menulis Masisir, tindakan reaktif satu komunitas kepada seorang penulis yang ditengarai mencerca dan menghina satu komunitas tertentu bukanlah sesuatu yang baru.
Tahun 2000, salah seorang penulis berinisial HS, harus menanggung resiko amukan massa satu komunitas kekeluargaan, disebabkan pernyataannya pada salah satu kolom opini di TeROBOSAN yang mengklaim satu suku sebagai suku primitif.
Di tahun 2005 sejarah berulang kembali. di tahun itu terjadi lagi aksi pemukulan beberapa kru TeROBOSAN. Semua itu dipicu oleh opini yang digelindingkan oleh beberapa reporternya, yang melukai hati satu komunitas Masisir. tulisan ini berbuntut panjang, dan melahirkan pertikaian kubu Aliansi Vs. KKS.
Dua tragedi itu hanyalah secuil penggalan kisah memilukan dalam sejarah Masisir, dimana kedua belah pihak yang bertikai secara tidak sadar tergiring dalam arus mengedepankan unsur kesukuan di atas nama persaudaraan seiman apalagi sebangsa dan setanah air. dan semua itu berawal dari tulisan. Sungguh sangat ironis memang. Baca entri selengkapnya »
Ramadhan tahun ini, adalah Ramadhan yang betul-betul kelabu bagiku. Betapa tidak, bulan magfirah ini, yang seharusnya diisi dengan tawa riang, semangat beribadah, zikir, membaca Al-Qur’an, belajar, dan kerja thesis. Justru terbalik bagiku bagaikan kompas yang telah rusak, jarumnya tidak mengarah ke arah utara dan selatan lagi, tapi berputar-putar tidak tentu arah. Menjadi bulan yang lewat begitu saja, waktu-waktu berharga banyak hilang dengan aktifitas yang tidak produktif. Salah satunya disebabkan oleh penantian visa yang awalnya tak kunjung datang, dan akhirnya tak datang-datang
Ah. Ramadhan tahun ini betul-betul kelabu bulan yang seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin demi menggapai cinta dan rida Ilahi, malah aku pergunakan untuk mengejar cinta seorang wanita cantik, sang pujaan hati. Naasnya… cinta itupun tak terbalaskan… panah-panah cinta yang aku bidikkan dari busur hatiku tak pernah mengenai sasaran…bagimana mau terbalas, si cantik pujaan hati ternyata telah berpunya, dan tentu bukan gayaku ingin merebut pacar orang. Ahaha… ikut lirik lagu sayang-sayang yang dinyanyikan vokalis dari negeri jiran, Aliff.. Akhirnya aku tidak mendapatkan dua cinta cinta si dia dan tentu cinta Ilahi. Tuhankan Ghayur (pencemburu)… cinta-Nya tak mau diduakan. Dan aku sadar tentang itu. Tapi itulah manusia. Hiks… bodoh memang.. betul-betul bodoh.. tapi buat si pujaan hatiku. Kalau sempat membaca coretan ini. Jangan berkecil hati yah
melalui goresan ini aku ingin titahkan, bahwa aku tetap sayang padamu. Karena dirimu telah terlanjur pernah ada di hatiku, dan aku telah terlanjur menyayangimu… ih… maksa banget yah
:P
Kelabu itu lalu menjadi semakin pekat dan berubah menjadi kelam, di saat niat suci untuk umrah bersama kedua orang tua dan dua saudariku, tidak tercapai. Sedih memang… sungguh sangat sedih… apalagi pada tanggal 10 Ramadhan, hari itu ahad malam, di saat aku mendapatkan SMS dari dindaku yang tercinta bahwa dia dan seluruh keluarga akan bertolak dari Air Port King Abdul Aziz Jeddah tepatnya pada pukul 1, Senin dini hari. Aduh kecewa… sungguh sangat kecewa, tapi mau diapa lagi. Baca entri selengkapnya »
Kawan… pernah tidak mendengar lantunan syair-syair pujangga Sang sufi, Rabiatul Adawiyah. Seorang sufi wanita yang juga digelar sebagai ratu pecinta dalam dunia sufistik? Dahsyat kawan!!! Sekali lagi, dahsyat!!!
Syair-syair yang lahir dari ekspresi cinta yang membuncah. Bara asmara yang berkobar laksana api yang tak kunjung padam. Justru semakin tersiram anggur kerinduan, cinta itu semakin terbakar. Tapi kawan, saya ingin menegaskan. Cinta yang dialami oleh guru besar Sang Pecinta hakiki itu sungguh indah. Dan goresan kata-kata ini tidak mampu menggambarkan manisnya rasa cinta yang menggelora itu.
Tapi mabuk cinta yang dialami oleh Rabiatul Adawiyah bukanlah cinta birahi. Bukan pula cinta kepada yang Fana. Bukan!!! Sekali lagi bukan!!! Tapi anggur cinta yang diteguk Rabiatul Adawiyah dan membuatnya mabuk, dan enggan untuk kembali dalam alam sadar, adalah cinta kepada yang Hakiki. Cinta kepada sang pencipta cinta. Cinta kepada Yang Maha Indah. Cinta kepada Yang Maha Sempurna. Cinta yang tak pernah mengenal kata menolak apalagi mengecewakan hamba-hamba yang mencintai-Nya. Itulah cinta kepada pencipta segala keindahan, kerinduan, kecantikan, keelokan, dan pencipta segalanya!!! Cinta kepada Allah Rabbul izzaty…
Kawan… coba dengarkan penggalan puisi Cinta Rabiatul Adawiyah berikut.
أحبك حبين: حب الهوى # وحبّا لأنك أهل لذاكا
فأما الذي هو حبّ الهوى # فذكرُ شُغلت به عن سواكا
وأما الذي أنت أهلُ له # فكشفُك الحُجب حتى أراكا
فما الحمدُ في ذا ولا ذاك لي # ولكن لك الحمد في ذا وذاك
Baca entri selengkapnya »

